Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lain yang belakangan ini terasa semakin tenang.Aku bangun tanpa perasaan panik, tanpa dada yang sesak, tanpa kebiasaan lama untuk langsung memeriksa ponsel seolah ada sesuatu yang bisa runtuh kalau aku terlambat beberapa menit saja. Cahaya matahari masuk dari sela tirai, jatuh lembut di lantai, membentuk garis tipis yang bergerak pelan mengikuti waktu.Aku duduk di tepi tempat tidur, menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.Beberapa bulan lalu, momen seperti ini mungkin akan kuanggap biasa. Sekarang, aku mulai paham bahwa ketenangan tidak pernah benar-benar biasa. Ia selalu layak disadari.Di dapur, aku membuat teh seperti biasanya. Suara air mendidih, bunyi sendok menyentuh dinding cangkir, aroma teh yang perlahan memenuhi udara—semuanya terasa akrab. Rumah masih sunyi karena Adrian belum bangun. Aku membiarkan diriku menikmati pagi sendirian tanpa merasa harus mengisinya dengan apa pun.Setelah beberapa menit, langkah kaki terdengar
Read more