"Ish ... nggak diangkat lagi, Qia," Maira mendengus, menatap layar ponselnya dengan frustrasi.Aku bisa merasakan kekesalannya, bercampur dengan kekhawatiran yang semakin besar."Sebentar, aku coba telepon Ayahku," ucapku, berusaha menawarkan solusi alternatif. Aku merogoh ponsel dari saku celana, jemariku dengan sigap menekan nomor Ayah.Maira menoleh, ekspresinya menunjukkan kebingungan. "Kenapa kamu telepon Ayahmu? Apa hubungannya?" tanyanya, alisnya bertaut."Papimu 'kan tadi pagi berangkat bareng Ayahku. Siapa tau mereka mampir ngopi dulu di kafe atau ke mana gitu, sebelum masing-masing masuk kerja," jelasku, mencoba memberikan penjelasan logis.Meskipun dalam hati kecilku, ada perasaan ganjil yang tak bisa kuabaikan. Karena pagi tadi, aku sempat melihat mereka berdua menikmati kopi di rumah."Oh gitu... ya sudah," jawab Maira, mengangguk pelan, mencoba mencerna penjelasanku.Tuuutt... Tuuttt... Tuuutt....Nada sambung terdengar, namun panggilan itu terasa begitu lama untuk diang
Zuletzt aktualisiert : 2025-12-07 Mehr lesen