Kondisi Alex bukan lagi sekadar buruk; ia sedang menari di ambang maut. Di ruang ICU yang pengap oleh bau disinfektan dan bunyi ritmis bedside monitor, Alex hanya mampu membisikkan satu nama di balik masker oksigennya, "Elsa..." Rebecca tak sanggup lagi melihat pemandangan itu. Dengan suara bergetar, ia memohon pada Ernes. "Cari dia, Ernes. Sebelum napas Tuan Besar benar-benar berhenti." Keesokan harinya, Ernes berdiri di depan kamar Landon dengan nyali yang menciut. Aroma sabun maskulin dan kemewahan yang dingin menyambutnya. Landon baru saja selesai mandi, tampak segar, kontras dengan kabar kematian yang dibawa Ernes. "Bajingan!" Cengkeraman Landon pada kerah jas Ernes begitu kuat hingga Ernes kesulitan bernapas. Mata Landon berkilat, bukan oleh kesedihan, melainkan oleh kebencian yang murni. "Kau pikir siapa Elsa? Berani-beraninya kau ingin menyeretnya ke hadapan pria tua busuk itu!" Bagi Landon, Alex Parker bukan lagi ayah. Dia hanyalah sisa-sisa otoritas yang harus segera d
Last Updated : 2026-01-05 Read more