Reyhan tidak pernah menyangka bahwa kursi empuk di ruang rapat lantai paling atas, bisa terasa seperti kursi listrik terdakwa hukuman mati. Pagi itu, ia duduk di ujung meja panjang dengan setelan rapi, kopi yang sudah dingin, dan ekspresi yang berusaha terlihat tenang... padahal di dalam kepalanya, alarm stres terus berbunyi tanpa henti. “Baik, Pak Reyhan,” ucap salah satu kepala divisi dengan nada formal yang janggal. “Untuk keputusan merger ini, kami menunggu arahan Bapak.” Reyhan berkedip. 'Pak...' Orang yang dulu memanggilnya Rey, bahkan pernah meremehkannya di rapat kecil, kini menyebutnya Pak dengan nada penuh hormat. Ironisnya, itu tidak membuatnya bangga. Itu justru membuat tengkuknya terasa linu dan kaku. “Ah… iya,” jawabnya sambil berdehem. “Kita bahas pelan-pelan.” Padahal pelan-pelan bukan gaya perusahaan ini. Dan jelas juga bukan gaya Dastan sama sekali. Di layar presentasi, tertera angka-angka berbaris rapi, proposal besar menunggu tanda tangan, dan semua or
Last Updated : 2025-12-30 Read more