Dastan tersadar. “Eh... saya jujur, Pak. Saya nggak gombal.” Arman menghela napas panjang, lalu bersandar ke kursinya. “Kamu ini mirip orang nekat, tahu nggak? Bisa-bisanya kamu mendekati putri saya setelah menghilang sepuluh tahun lalu!" Lestari menyahut, “Nekat, tapi kelihatannya tulus, kok.” Arman pun melirik istrinya. “Jadi Mamih sudah memihak?” Istrinya tersenyum manis. “Saya cuma objektif.” “Apanya yang objektif. Jelas-jelas memihak," guman Arman dengan sangat pelan, takut kedengaran istrinya. Tapi ucapan Arman itu terdengar oleh Dastan, dan lagi-lagi ia berguman dalam hati, 'Fix. Si Papih ini bucin garis keras.' Arman menatapnya tajam lagi. “Kamu ngejek saya dalam hati, ya?!” Sontak Dastan langsung duduk lebih tegak mendengar hardikan itu. “Enggak, Pak.” “Demi apa?” tanya Papih curiga. “Demi… masakan Bu Lestari,” jawab Dastan spontan. Lestari tertawa kecil, sementara Arman memijat pelipisnya. “Kamu ini berbahaya. Pinter cari aman.” “Tapi dia jujur,” balas
Terakhir Diperbarui : 2025-12-27 Baca selengkapnya