Reyhan menutup pintu ruangannya sedikit lebih keras dari biasanya. Begitu kunci magnetik itu berbunyi pelan, ia masih diam berdiri di tempatnya. Satu tangannya masih menggenggam gagang pintu. Dadanya naik-turun terlalu cepat, untuk ukuran seseorang yang barusan hanya berjalan beberapa puluh meter dari lorong. “Sial.” Ia melonggarkan dasi sebelum membuka jasnya, lalu melemparkannya ke sandaran kursi. Kemudian pria itu berjalan dua langkah, sebelum menoyor kepalanya sendiri dengan telapak tangan. “Kamu bodoh, Reyhan," gerutunya kepada diri sendiri. Sejak kemarin, Reyhan sudah memutuskan satu hal dengan sangat rasional. Bahwa Ara bukan tipe perempuan yang bisa dikejar dengan cara frontal. Ia terlalu pintar, terlalu mandiri, dan terlalu terbiasa untuk mengendalikan situasi. Kalau wanita seperti itu ditekan, ia akan kabur lagi persis seperti yang sudah-sudah. Dan Reyhan tahu itu, makanya ia memilih strategi pelan, pasti, dan rapi. Memberi ruang, membiarkan Ara bert
Read more