Salju turun lebih deras dari perkiraan pagi itu. Langit Swiss yang semula cerah berubah kelabu hanya dalam hitungan jam, membuat jendela kamar mewah di hotel mereka di St. Moritz tertutup kabut tipis. Marvella berdiri di dekat kaca, mengenakan sweater rajut krem dengan rambut masih setengah basah, menatap ke luar dengan ekspresi datar. Di belakangnya, Dastan sedang menutup laptop dengan gerakan yang terlalu cepat. “Vel,” panggilnya pelan tapi tegang. “Kamu yakin nggak apa-apa?” Marvella menoleh. "Memangnya aku kelihatan kenapa?” Dastan mengamati wajah istrinya dengan terlalu detail. Warna bibirnya cara ia menarik napas, dan cara bahunya naik turun. “Aku denger kamu batuk dua kali tadi,” ucapnya serius. Marvella menghela napas panjang. “Itu biasa aja, bukan kode darurat.” “Kamu sudah minum teh jahe?” “Sudah.” “Vitamin?” “Sudah.” “Leher kamu hangat?” “Sudah, Pak CEO.” Dastan berdiri dari kursinya dan bergerak mendekat. Satu tangannya refleks menyentuh dahi Marvella. “Ma
Terakhir Diperbarui : 2026-01-10 Baca selengkapnya