"Ternyata kamu benar-benar nyata, Ara." Namun Reyhan tidak langsung mendekat. Ia berdiri di tempatnya dengan gelas di tangan, memperhatikan dari jarak yang cukup aman untuk tidak ketahuan. Tapi cukup dekat untuk memastikan ia tidak salah lihat. Ara memang nyata. Wajah cantiknya, rambut panjangnya. Gaunnya yang hitam, sederhana, tapi elegan dan serasi di tubuhnya yang ramping. Tawanya terdengar ringan dan lepas, persis seperti yang Reyhan ingat. Pria di hadapan Ara tampak mendekatkan wajahnya sedikit, tapi terlalu dekat. Reyhan meneguk minumnya sampai habis. Alkoholnya pahit, tapi justru itu yang membuat dadanya terasa lebih terkendali. “Tenang, Reyhan” gumannya pelan pada diri sendiri. “Kamu ke sini buat kerja. Bukan buat drama.” Ia memberi isyarat pada bartender untuk satu gelas lagi, sebelum akhirnya melangkah. Bukan menuju ke arah Ara, melainkan ke arah ballroom di belakang. Ia perlu memastikan acara pesta penyambutan berjalan sebagaimana mestinya. Is meliha
Read more