Siang itu panasnya seperti sengaja dipertontonkan. Matahari berdiri tepat di atas kepala, memaksa semua orang menunduk, kecuali Pram. Ia berdiri di seberang gerbang sekolah, kaku, canggung, seperti orang asing yang salah alamat.Sudah lama ia tidak menjejakkan kaki di sini. Biasanya hanya laporan, piala, foto, nilai, ia ikut tersenyum dari jauh, lalu kembali ke dunianya.Bel pulang baru saja berbunyi. Murid murid berhamburan keluar. Tawa, teriakan, keluhan soal PR. Pram menyapu wajah wajah muda itu, mencari satu nama yang selama ini hanya ia banggakan lewat cerita orang lain.Samudra muncul di antara mereka. Tas di punggung, langkahnya cepat. Begitu melihat Pram, langkah itu berhenti.Tidak ada binar kerinduan. Tidak ada panggilan ‘Papa’ yang menghangatkan. Samudra hanya menatapnya sekilas, seperti melihat tiang listrik yang mendadak menghalangi jalan. Samudra menatap sekilas, lalu hendak berbelok."Sam," panggil Pram. Suaranya serak, kalah saing dengan deru motor siswa yang lain.Sam
Read more