Tidak lama kemudian, Ratih muncul kembali dari ruang depan. “Dari siapa?” tanya Jamal setelah gadis itu duduk di sampingnya. “Tante Marwah. Ibu belum sempat membukanya. Paling undangan selamatan atau semacam itu,” jawab Ratih ringan seraya ikut membantu pekerjaan pamannya. Beberapa saat berlalu. “Rat,” ujar Jamal tiba-tiba, “temanmu itu, Bu Atika, sudah lama, ya, bekerja di kelurahan?” “Lumayan,” sahut Ratih. “Kalau tidak salah, sekitar dua tahun.” Tiba-tiba ia mengerling pamannya. Senyum nakal mengembang di sudut bibirnya. “Tidak biasanya Om tertarik menanyakan perempuan. Om suka, ya? Tapi sayangnya Bu Atika sudah bersuami.” “Aku tahu. Bukannya tempo hari dia membawa anaknya ke sini?” “Oh, iya. Aku lupa.” Ratih tertawa. “Lalu, kenapa Om ingin tahu tentang dia?” “Hanya sedikit penasaran,” kata Jamal sambil lalu; tangannya tetap sibuk. “Seingatku, dia belum ada di sini saat terakhir kali aku pulang kampung.” “Itu sekitar tiga tahun lalu,” kata Ratih. “Waktu itu Bu Atika mema
Last Updated : 2026-01-16 Read more