Aruna menangis histeris. Tubuhnya gemetar, bajunya kusut tak beraturan seolah mencerminkan harga diri yang telah direnggut paksa. Tangisnya pecah, memantul di dinding sunyi yang tak memberi jawaban apa pun.“Hikss… aku jijik sama mas Revan… lepasin aku, mas… tolong…” suaranya parau, nyaris tak terdengar selain isak yang bergetar.Ia meronta sekuat tenaga, namun borgol dingin di pergelangan tangannya membuat setiap perlawanan sia-sia. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berteriak, berharap ada keajaiban yang datang menyelamatkannya.Di sudut ruangan, Revan justru tampak tenang. Ia menghisap rokok perlahan, asapnya melayang di udara, bercampur dengan bau ketakutan. Tatapannya tertuju pada Aruna—dingin, tajam, dan dipenuhi obsesi yang menyesakkan.“Patuhlah,” ucapnya datar. “Tetap bersamaku, maka mas akan melepaskanmu.”“Enggak…” Aruna menggeleng cepat, air matanya jatuh tanpa henti. “Aruna nggak
Terakhir Diperbarui : 2025-12-15 Baca selengkapnya