Pagi itu, angin bertiup lembut menyapu halaman rumah besar keluarga Angkasa. Namun di dalam, suasana justru begitu tegang. Lilyan mengerang pelan di ranjangnya, wajahnya pucat, keringat membasahi pelipis. Rega berdiri di sampingnya, menggenggam erat tangan istrinya yang kini tengah berjuang antara nyawa dan kehidupan baru yang akan segera hadir di dunia. "Sayang kita ke rumah sakit sekarang. Sepertinya bayi kita akan segera lahir." Rega tampak panik. Ia segera memerintahkan sopir untuk menyiapkan mobil. Dengan sangat hati-hati Rega mengangkat tubuh istrinya dan masuk ke dalam mobil. Mobil mewah itu segera meluncur menuju rumah sakit terdekat. “Sayang, tahan sedikit lagi. Kita akan segera sampai," bisik Rega sambil menyeka keringat di dahi Lilyan. Lilyan hanya mengangguk lemah. Perutnya yang besar bergerak tak beraturan, kontraksi semakin intens dan jaraknya kian rapat. Setibanya di rumah sakit, Lilyan segera dibawa ke ruang tindakan. "Jangan tinggalkan aku Mas." Lilyan m
Read more