Di dalam ruang tengah yang luas dan mewah, Bu Fatma duduk santai di atas sofa berlapis kulit, tersenyum puas sambil memainkan gelas berisi jus jeruk di tangannya. Sebuah ponsel tergeletak di meja, baru saja ia letakkan setelah menerima laporan dari anak buahnya. Senyum licik menghiasi wajahnya, matanya bersinar puas seperti seekor kucing yang baru saja menangkap mangsanya.Tawa kecil pun lolos dari bibirnya, tak mampu ia tahan.Di saat itu, Vano baru keluar dari kamarnya, masih mengenakan kaus dan celana santai. Ia mengerutkan kening melihat tingkah ibunya yang tampak bahagia tidak biasa."Mama kenapa ketawa sendiri?" tanya Vano, mendekati ibunya dengan rasa penasaran.Bu Fatma menoleh, senyumnya makin melebar. Dengan suara pelan penuh kemenangan, ia berkata, "Gina sudah mati, Vano. Kita tidak perlu khawatir lagi."Vano tertegun di tempatnya. Tubuhnya seperti tersengat listrik, bulu kuduknya meremang. Kabar itu seharusnya melegakannya, namun entah mengapa, yang ia rasakan justru ketak
Terakhir Diperbarui : 2026-02-20 Baca selengkapnya