Malam datang tanpa suara.Tidak ada sirene, tidak ada panggilan darurat, tidak ada langkah tergesa di lorong vila. Hanya keheningan yang akhirnya berani turun setelah hari yang terlalu panjang, terlalu padat oleh tekanan dan keputusan yang tak boleh salah.Aruna berdiri di dapur kecil vila, menutup teko air panas. Uap tipis naik perlahan, membasahi udara yang dingin. Ia belum melepas blazer, seolah tubuhnya masih siaga, belum sepenuhnya percaya bahwa hari itu benar-benar selesai.“Aku kira kau akan langsung tidur,” suara Arden terdengar dari ambang pintu.Aruna menoleh. “Aku ingin memastikan kau minum sesuatu dulu. Kau hampir tidak berhenti sejak pagi.”Arden tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri di sana, menatap punggung Aruna, bahu yang selama ini ia lihat menahan lebih banyak beban daripada yang seharusnya dipikul satu orang.“Aku tidak pernah terbiasa ada seseorang yang mengingatkanku untuk berhenti,” katanya akhirnya.Aruna tersenyum kecil, menuang air ke cangkir. “Sekarang k
Last Updated : 2026-02-08 Read more