“Apa itu mobil yang sama sejak tadi, Reyna?”Suara Aruna terdengar pelan, namun ada getaran waspada yang tak mampu ia sembunyikan. Mobil mereka terus membelah jalanan hutan yang sempit, lampu depan memotong kabut tipis yang mulai turun menyelimuti bukit. Di spion belakang, dua titik cahaya itu masih setia mengekor.. kecil, namun konsisten menjaga jarak.Reyna tidak langsung berpaling dari jalanan. Matanya tetap terpaku pada spion, menghitung interval cahaya di belakangnya.“Belum bisa dipastikan,” jawab Reyna dengan nada yang sengaja dikontrol agar tetap tenang. “Tapi kalau mereka memang mengikuti kita, mereka hanya menunggu waktu yang tepat. Di jalan sesempit ini, mereka tidak akan menyerang sampai kita keluar ke area terbuka.”Layla, yang duduk di samping Aruna, tampak semakin tegang. Jemarinya mencengkeram tangan Aruna begitu kuat, seolah takut jika ia melepaskannya, ia akan kembali ke kegelapan yang lama.“Aruna…” bisik Layla, suaranya nyaris hilang ditelan deru mesin.Aruna meno
อ่านเพิ่มเติม