“Aku tidak akan masuk ke Sayap Kiri.”Suara Aruna terdengar tenang, tetapi napasnya tertahan di tenggorokan. Ia berdiri tegak di hadapan Reyna, di ruang tengah yang udara paginya terasa dingin seperti lantai marmer di bawah telapak kakinya.“Tapi aku juga tidak akan membiarkan siapa pun masuk ke sana.”Reyna menatapnya lama. Tatapan itu seperti pisau yang tidak langsung menusuk, tetapi menekan perlahan, menguji apakah lawannya akan mundur sendiri.“Kaeswara tidak butuh pahlawan, Nyonya,” ucap Reyna kaku.“Bagus,” jawab Aruna santai. “Aku juga tidak bercita-cita mati heroik di rumah orang.”Reyna berbalik tanpa memberi ruang untuk perdebatan lanjutan. Langkahnya menjauh, sepatu haknya berdetak teratur, seperti hitungan mundur bagi sesuatu yang belum terlihat.Aruna mengembuskan napas pelan.Di dekat vas bunga, Elise berdiri canggung. Wajahnya pucat, matanya penuh tanya. Tangannya terangkat, membuat isyarat kecil yang hati-hati.“Aman,” bisik Aruna. “Untuk saat ini.”Elise mengangguk, te
Last Updated : 2025-10-28 Read more