"Kau tahu, Aruna? Sepanjang jalan dari kantor polisi tadi, aku hanya memikirkan satu hal."Arden menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu kamar utama yang remang-remang. Ia tidak menyalakan lampu besar, hanya membiarkan cahaya temaram dari lampu dinding dan pendar lampu kota dari jendela besar menyinari ruangan. Suaranya rendah, serak, dan mengandung getaran yang membuat bulu kuduk Aruna meremang.Aruna berbalik perlahan, melepaskan anting-antingnya yang terasa berat. "Apa yang kau pikirkan, Arden? Soal saham perusahaan? Atau soal pengacara Paman Bima?"Arden terkekeh pelan.. sebuah tawa yang terdengar sangat berbahaya namun memikat. Ia melangkah mendekat, memperpendek jarak hingga Aruna bisa mencium aroma maskulin bercampur sisa ketegangan yang mulai menguap dari tubuh suaminya."Bukan," bisik Arden tepat di telinga Aruna. "Aku memikirkan betapa aku ingin segera mengunci pintu ini, membuang semua masalah dunia di luar sana, dan hanya menjadi pria yang memuja istrinya. Tanpa g
Read more