“Jadi… dia akhirnya memilih namaku.”Aruna tidak mengangkat kepala saat kalimat itu keluar. Tangannya masih memegang map cokelat tua dengan cap pengadilan di sudut kanan atas... rapi, resmi, dingin. Map yang beberapa jam lalu dikirimkan tanpa pengirim, tanpa salam, tanpa rasa malu.Pak Herman duduk di seberangnya, tubuhnya condong ke depan. “Bukan hanya memilih, Bu Aruna,” katanya hati-hati, suaranya berat tapi stabil. “Dia menargetkan. Ini serangan terukur.”Aruna tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai matanya.“Rendra selalu begitu,” ujarnya pelan. “Dia tidak pernah meninju wajahmu di depan orang. Dia memilih menusuk dari belakang, lalu menyalahkanmu karena berdarah.”Pak Herman mengangguk, lalu membuka map itu perlahan. Kertas-kertas di dalamnya tersusun terlalu rapi untuk ukuran ancaman. Ini bukan gertakan murahan. Ini dokumen yang disiapkan oleh orang yang tahu hukum, tahu waktu, dan tahu titik lemah manusia.“Gugatan perdata,” kata Pak Herman. “Atas nama hutang pribadi. Jum
Last Updated : 2026-01-20 Read more