Keheningan yang merayap di dalam kamar utama Arka Dirgantara setelah badai gairah itu mereda terasa jauh lebih mematikan daripada ledakan amarah mana pun yang pernah terjadi. Di atas ranjang king-size yang kini berantakan, Lia Sanjaya terbaring dengan napas yang masih terputus-putus, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan sementara peluh masih membasahi kulitnya yang merona. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya masih bergetar, sisa-sisa gelombang kenikmatan yang dipaksakan Arka masih berdenyut di saraf-sarafnya, namun hatinya terasa sepi, seolah-olah baru saja dikuras habis hingga kering.Arka tidak membiarkan momen "setelahnya" itu berlangsung lebih dari beberapa detik. Tanpa sepatah kata pun, tanpa kecupan di dahi, atau bahkan sekadar tarikan selimut untuk menutupi tubuh Lia yang polos, pria itu bangkit. Gerakannya cepat, efisien, dan sangat dingin—seperti seorang prajurit yang baru saja me
Read more