Sisa-sisa napas yang memburu masih menggantung di udara kamar yang pengap oleh aroma gairah, keringat, dan sisa kejujuran yang brutal. Arka Dirgantara masih menindih tubuh Lia, jantungnya berdegup kencang menghantam dada wanita itu, seolah-olah detak jantung mereka sedang mencoba beradu dalam satu irama yang sama. Namun, ada yang berbeda setelah ledakan puncak tadi. Tidak ada penarikan diri yang kasar, tidak ada langkah kaki yang terburu-buru menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan kembali mengenakan topeng kedinginan. Arka tetap di sana, membenamkan wajahnya di ceruk leher Lia, membiarkan peluh mereka menyatu di atas seprai sutra yang kini berantakan.Lia merasakan kehangatan yang tidak biasa menjalar dari tubuh Arka. Pria ini, yang biasanya berdiri tegak laksana menara gading yang tak tersentuh, kini terasa begitu berat dan pasrah di atasnya. Saat Arka perlahan mengangkat kepalanya, Lia tertegun. Mata elang yang biasanya berkilat tajam itu kini meredup, dilapisi selapis air
Read more