Roxie menerobos pintu otomatis rumah sakit, napasnya tercekat di tenggorokan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi.Dia melihat Ronald di ruang tunggu rumah sakit, gelisah dan mondar-mandir seolah sedang tenggelam dalam pikiran."Ronald," katanya, bergegas mendekat. "Ada apa? Siapa yang sakit?""Carissa," jawabnya, suaranya pelan dan tegang. "Dia pingsan. Dia meneleponku dari taman, sambil nangis … dia hampir nggak bisa bicara. Ketika aku sampai di sana, dia tiba-tiba ambruk."Pandangan Roxie kabur oleh air mata yang tertahan. Perasaan takut yang dingin hinggap di perutnya. Dia tahu Carissa patah hati, tapi sampai pingsan? Seberapa banyak penderitaan yang bisa ditanggung seseorang?"Aku langsung membawanya ke sini," kata Ronald, suaranya tercekat oleh kecemasan yang tak bisa ia sembunyikan. Dia terus mondar-mandir, energi gelisah memancar darinya. "Dokter masih bersamanya. Ya Tuhan, Rox, kalau kamu lihat dia tadi .... Wajahnya pucat pasi.""Apa?" bisik Roxie, pikirannya ka
Read More