Bimo duduk di ruang kerjanya, wajah kusut, mata merah karena kurang tidur. Ponselnya terus ia tatap, berharap ada pesan dari Santi, tapi layar tetap kosong. Ia meremas rambutnya, berjalan mondar-mandir, frustasi. “Di mana kau, Santi … Kau tidak bisa pergi begitu saja. Aku masih suamimu. Anak-anak itu … mereka juga butuh aku.” Suara itu pecah di ruangan yang sunyi. Namun sebelum ia bisa melanjutkan, pintu terbuka perlahan. Sosok yang sudah lama ia kenal berdiri di ambang pintu: Danira. “Bimo …,” suaranya lembut, tapi penuh luka. “Kau masih saja mengejar Santi, padahal aku sudah memberikan segalanya untukmu.” Bimo menoleh, matanya tajam. “Danira, jangan mulai lagi. Aku sedang tidak ingin membicarakan masa lalu.” Danira melangkah masuk, gaunnya berkilau samar di bawah cahaya lampu. “Masa lalu? Kau pikir aku bisa melupakan begitu saja? Aku yang selalu ada ketika kau jatuh. Aku yang menutup luka-lukamu. Aku yang memberikan segalanya—waktu, tenaga, bahkan hatiku. Tapi kau tetap me
최신 업데이트 : 2026-01-31 더 보기