“Aku yakin, Kak Bimo nggak akan datang. Dia nggak memiliki perasaan apapun padamu,” Lana memprovokasi Danira.“Aku tahu itu, dia memang nggak memiliki perasaan padaku, tapi kalau semua berhubungan dengan ini …,” seraya memberitahu sambil mengusap perut Danira yang masih buncit, menegaskan kembali kalau Bimo akan tetap mengikuti semua ucapan dia asalkan berhubungan dengan yang berada di dalam perutnya.Lana merasakan dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Cengkeraman Danira di wajahnya perlahan terlepas, namun tatapan wanita itu tetap mengunci pergerakannya. Danira berbalik dengan tenang, mengambil ponselnya di atas meja rias seolah tidak terjadi drama pengancaman barusan."Pergilah, Lana. Cuci mukamu, tenangkan dirimu, dan keluar dari sini seolah-olah kita baru saja berbagi rahasia kecil antar saudara ipar," ucap Danira tanpa menoleh. Ini bukan hanya sekedar peringatan lebih dalam dari itu adalah ancaman yang tidak boleh Lana abaikan."Dan ingat, satu kata saja k
Read More