“Kau takut aku salah masuk kamar, kan?” Ucapan itu seperti percikan api di atas bara. Dada Revan memanas. Tanpa banyak pikir, ia menarik Irisha ke dalam pelukannya, genggamannya kuat, posesif.“Sekali saja kau berani mengkhianatiku,” bisiknya rendah, penuh ancaman, “aku tak akan ragu menyuntikmu sampai mati.”Namun, alih-alih gentar, Irisha justru tertawa kecil. Ia mengalungkan kedua lengannya di leher Revan, mendekatkan wajah mereka hingga napas mereka saling berbaur.“Kau takut aku selingkuh?” tanyanya lirih, penuh tantangan.Revan menelan ludah. Cemburu, amarah, dan hasrat bercampur jadi satu. Tanpa menjawab, ia mencium Irisha dengan kasar, lalu mendudukkannya di atas meja.“Om, jangan di sini,” Irisha berbisik, suaranya tertahan.Namun, Revan yang telah dikuasai rasa cemburu tak lagi peduli. Akalnya menyingkirkan logika, bahkan kenyataan bahwa di rumah itu ada anak dan menantunya sendiri seolah lenyap begitu saja.Revan menarik pinggang Irisha mendekat, gerakannya tegas tanpa se
Terakhir Diperbarui : 2025-12-16 Baca selengkapnya