“Dede bayi?” bisiknya lirih, “malam ini kita pasti dapat pelukan dari Papah. Ayo, kita siap-siap dulu.” Selesai mandi, Revan tak langsung menemui Irisha, ia memilih duduk di sofa. Tangannya meraih laptop, berusaha larut dalam pekerjaan, atau justru bersembunyi dari Irisha. “Om?” panggil Irisha pelan, mendekat. Tak ada jawaban. Irisha mendesah dramatis. “Dosa loh nyuekin istri …” Revan menutup laptop setengah, lalu menatapnya. Tatapan tajam, dingin, tapi lelah seolah ia tidak lagi punya tenaga untuk marah, tapi juga belum siap untuk berdebat. “Maumu apa?” tanyanya tegas, datar, tanpa nada membujuk. Irisha duduk di pangkuannya begitu saja, mengalungkan tangan di leher Revan. Napasnya terasa di kulitnya, membuat Revan menegang. “Maunya, dipeluk Om …,” bisiknya menggoda, bibirnya menyentuh bibir Revan sekilas cukup singkat untuk disebut ciuman, cukup lama untuk disebut tantangan. Revan memejamkan mata sejenak, menahan diri. Ia tahu apa yang Irisha lakukan. Ia tahu Irisha
Terakhir Diperbarui : 2025-12-30 Baca selengkapnya