Anggrawati meletakkan cangkir tehnya dengan sangat pelan. Gemetar di tangannya nyaris tak terlihat. "Liontin ini bukan 'jelek', Ki Sentanu. Ini adalah salah satu dari tiga fokus utama ritual mereka. Tanpa ini, kekuatan mereka berkurang sepertiganya. Aku memperlambat mereka." "Memperlambat?" Nyi Roro Asih dari Padepokan Kembang Sutra tertawa kecil, suara tawanya kering seperti daun-daun di musim kemarau. "Sayang, kamu hanya membuat mereka marah. Kemarin, mereka membakar tiga desa di perbatasan utara sebagai balasan. Bukan hanya memperlambat, kamu malah mempercepat kehancuran rakyat jelata. Bagaimana ini?" "Ini bukan salahku!" balas Anggrawati, suaranya sedikit meninggi. "Ini salah kita semua karena tidak melakukan apa-apa!" "Kalau aku, melakukan sesuatu," sahut Pangeran Jaya dari Aliran Sungai Perak, seorang pemuda congkak yang menyandarkan kakinya di atas meja. "Aku memperkuat tembok padepokanku. Menambah penjaga. Rakyatku
Last Updated : 2025-12-26 Read more