Telepon itu berdering pelan, seperti mengetuk sisi dada yang paling rapuh. Nara menatap layar ponselnya sebentar, nama Arsa terpampang jelas, dan entah kenapa, malam itu ia tak punya cukup kekuatan untuk mengabaikannya.Ia menekan tombol hijau.“Sedang apa?” suara Arsa muncul, serak, rendah, dan ada semacam tarikan napas lelah yang tidak pernah ia tunjukkan di markas.Nara menelan salivanya. Rambutnya, yang baru saja ia sisir, jatuh lembut di pundak kanan. “Belum tidur,” jawabnya pelan, “Kamu?”“Sama,” gumam Arsa. “Aku kira kamu sudah.”Keheningan kecil turun, tapi bukan yang canggung, lebih seperti dua orang yang sadar bahwa ada sesuatu yang tidak boleh mereka akui terlalu cepat.“Aku tidak bisa tidur,” Nara berkata jujur. “Kepalaku ramai.”“Ramai soal apa?” tanya Arsa, tapi nadanya... bukan formal. Bukan seperti prajurit ke istri atasan.
Nada itu hangat, rendah, seolah ia sedang mencondongkan tubuh mendekat, padahal suara saja sudah cukup untuk membuat Nara merasakan jarak mereka m
Dernière mise à jour : 2025-11-24 Read More