Arsa tidak berniat datang sore itu. Tidak ada alasan tugas, tidak ada laporan, tidak ada perintah komandan. Tapi langkah kakinya justru menemukan jalan sendiri ke halaman rumah itu, ke rumah yang sudah ia hapalkan tanpa sengaja, dari jarak, dari aroma pohon kamboja di depannya.Ia berdiri beberapa detik di luar pagar, menenangkan napasnya. Namun justru di saat itu, pintu depan terbuka.Nara muncul.Tidak sedang rapi, tidak sedang berdandan. Rambut panjangnya jatuh begitu lembut di bahu dan punggung, seolah baru disisir sekali lalu dibiarkan mengikuti arah angin. Dia memakai kaus rumah warna lembut, jatuh di tubuhnya dengan cara yang membuat Arsa harus menegakkan posisi tubuhnya sedikit, hanya untuk menutupi betapa cepat jantungnya berubah ritme.Nara tampak terkejut, tetapi tidak menutup pintu.“Ada perlu apa, Arsa?”Nada suaranya datar, tapi matanya, ya Tuhan, mata Nara memberikan ruang kecil yang tidak pernah ia temukan pada perempuan lain. Ruang yang seperti berkata: masuklah sedi
Dernière mise à jour : 2025-11-26 Read More