“Tapi kan nggak bisa, Lian.” Ivy terdiam, berbaring di atas ranjang. Pembicaraan dengan Lian tadi masih terngiang dalam ingatan. ‘Hadeh! Sejak kapan juga dia itu suka sama aku?! Kalau tau kan, aku nggak akan terlalu deket,’ keluh Ivy merasa bersalah. Tidak tahu harus bagaimana bersikap selanjutnya, Ivy memutuskan menghubungi Samantha. Mungkin saja, calon iparnya itu tahu hal seperti ini. Dering nada sambung kedua, suara ceria Samantha terdengar di telinga Ivy. “Ivy!”“Hey, Sam!” balas Ivy sedikit lemah. “Lagi sibuk nggak? Kayaknya aku butuh solusi tentang hubungan manusia.”Samantha terkekeh mendengar pertanyaan aneh itu. “Kamu kira aku psikolog? Kenapa emang?”“Killian.” Ivy mengucap nama itu. Ia tidak tahu, kalau di balik sambungan telepon ada 2 orang yang ikut terkesiap selain Samantha. “Uh … ehm! Oke?” Samantha terdengar berhati-hati, tetapi Ivy terlalu larut dalam masalahnya untuk menyadari. Seperti terpaksa melanjutkan pembicaraan, Samantha bertanya, “Killian kenapa?”Den
Read more