"Andini..," gumam Satria.Malam itu, Satria berdiri cukup lama di bawah pancuran.Air dingin mengalir di kepalanya, tapi pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan Andini dengan wajah pucat, tangan menekan perut, dan pesan-pesan singkat yang ia baca berulang kali terus berputar di kepalanya.Besok ke klinik.Kalimat itu terkesan sederhana, tapi beratnya tidak main-main.Satria menutup keran dan mengusap wajahnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin kamar mandi. Rautnya tetap tenang seperti biasa, tapi di balik itu ada kegelisahan yang jarang ia rasakan.“Kalau kamu langsung terima lamaranku, mungkin semua akan lebih mudah, An,” gumamnya lagi, kali ini lebih lirih.Ia tahu Andini belum siap. Ia juga tau memaksa bukan caranya. Tapi tetap saja, sebagai laki-laki, ada dorongan kuat dalam dirinya untuk langsung berdiri di depan semua orang dan berkata: itu anak saya.Satria keluar dari kamar mandi, mengenakan pakaian tidur, lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengambil ponsel lagi, menat
Terakhir Diperbarui : 2026-01-18 Baca selengkapnya