"An?"Satria menatap dan menyentuh lembut punggung tangan kekasihnya itu. Sejak tadi, Andini hanya memandang ke luar jendela. Seolah, ia sedang mencari jawaban atas kegamangannya saat ini. "Hem.." jawab Andini, tanpa mengalihkan pandangannya. "Jangan terlalu banyak pikiran, An. Ingat, aku di sini!" ucap Satria. "kita selesaikan semua sama-sama."Andini melihat ke arah Satria. "Aku tau, tapi.. ini nggak semudah seperti apa yang kamu pikirin. Rasa takut dan khawatir yang aku rasain, jauh lebih besar dari apa yang kamu tau." Air mata mulai menetes dari sudut-sudut mata cokelat Andini. Satria tersenyum tipis, ia menghapus lembut air mata yang tersisa di pipi Andini. Ia bingung harus berkata apa. Khawatir, apa yang dia ucapkan salah dan membuat Andini semakin sedih. Buruknya lagi, Andini akan kesal, menyalahkan diri sendiri, dan meninggalkannya begitu saja. "Percayalah, Siska adalah orang yang memiliki pikiran terbuka. Ia nggak akan melepas kamu gitu aja, hanya karena hubungan kita
Terakhir Diperbarui : 2026-01-28 Baca selengkapnya