Share

Bab 115

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-01-25 05:12:24

"Hem... "

Zaskia menaruh ponsel diatas nakas dan duduk dipinggir tempat tidur.

"Kenapa Ibu tega sekali? Padahal.. bayi itu belum lahir dan jelas saya adalah Ayahnya?!" tanya laki-laki tersebut dengan kening berkerut.

Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. Kenyataan kalau perempuan yang membuatnya ketagihan adalah orang yang kejam.

"Ayolah... Kita sama-sama tau kalau aku tidak hanya melakukan itu dengan kamu! Jadi, jangan berlebihan!" tutur Zaskia.

"Banyak laki-laki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 274

    "Uhm.." renguh Siska. Setelah cukup lama menatap Johan dari depan kaca, Siska berbalik dan kini menghadapnya. Ia mulai mendekat dan memegang lembut wajah Johan dengan jari-jari tangannya. Tidak ada niat sedikitpun bagi Johan untuk menjauh dari Siska. Ia justru melihat lurus ke arah Siska dan sengaja membiarkan Siska melakukan apapun padanya. Siska mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Johan dan mencium lembut bibirnya. Johan menerimanya dengan baik. Ia malah memegangi kepala Siska dengan tangan kanannya dan menarik pinggang Siska dengan tangan kirinya agar tubuhnya semakin mendekat. Lalu ia menggiring tubuh Siska ke bawah pancuran air dan mengaturnya agar mengeluarkan air hangat yang pas di kulit mereka berdua. "Ahh.." ucap Siska saat air hangat menyentuh kulitnya yang dingin sejak tadi. Air hangat itu, kini mulai memenuhi ruangan, uap tipis perlahan naik dan memburamkan cermin besar di din

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 273

    "Hah..," Siska menghela nafas pelan. Ia memandang lurus ke depan. Lampu-lampu jalan memantul samar di kaca depan mobil, bergerak perlahan mengikuti laju kendaraan yang cukup stabil. Wajahnya terlihat tenang, tapi jelas bukan karena semuanya baik-baik saja. Tapi lebih seperti seseorang yang sedang menahan banyak tekanan sekaligus.Johan tidak berkata apa-apa. Tangannya tetap di kemudi, matanya fokus ke jalan. Tapi sesekali, ia melirik ke arah Siska. Ia sadar kapan harus diam. Dan malam ini, jelas bukan waktunya untuk bertanya.Mobil terus melaju tanpa arah yang jelas.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Siska akhirnya menoleh sedikit ke arah Johan. "Jo..""Hm?" tanya Johan. Ia langsung merespon, dengan suara yang dijaga untuk tetap tenang.Siska diam sebentar, seolah memilih kata yang cocok. "Kamu.. mau nggak nemenin aku malam ini?"Tidak ada nada manja dan juga tidak terdengar rapuh. Tapi cukup jelas kalau itu bukanlah permintaan biasa.Johan menoleh sekilas, lalu tersenyum ti

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 272

    "Udah," potong Siska.Ia bangkit dari duduknya. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia tidak ingin tinggal lebih lama di sana. Ia mengambil tasnya."Aku rasa semua udah cukup jelas," ucap Siska. Bastian langsung ikut bangkit dari duduknya. "Beb, tolong jangan kayak gini. Kita masih bisa bicarain baik-baik.""Enggak perlu," jawab Siska singkat.Ia tidak menatap Alya lagi. Tidak juga menunggu tanggapan dari Bastian. Ia berjalan ke luar dari kafe. Dan Bastian menyusulnya. "Beb!" panggilnya.Pintu terbuka cukup lebar. Udara malam yang dingin langsung terasa masuk menembus kulit. Siska tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan Bastian. "Beb, tunggu dulu!" suara Bastian terdengar lebih keras sekarang.Namun langkah Siska tidak melambat.Sampai akhirnya, ia berhenti. Bukan karena Bastian. Tapi karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya.Johan. Pria itu tampak sedikit terkejut melihat Siska, tapi tidak menunjukkannya."Kamu udah selesai?" tanyanya singkat.Siska menatapnya beberapa de

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 271

    "Aku..," jawab Siska, ragu. Ia memutar gelas di tangannya pelan sambil menatap cairan di dalamnya. Seolah, sedang mencari sesuatu di sana."Untuk sekarang, aku nggak tau, Bas," ucapnya akhirnya.Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak juga bergetar. Dan justru itu yang membuatnya terasa semakin jauh.Bastian mengernyit tipis. "Nggak tau gimana maksud kamu, Beb?"Siska menggedikkan bahunya pelan. "Ya nggak tau aja, Bas. Aku nggak bisa langsung bilang iya atau nggak. Karena jujur perasaan aku masih kayak gini."Ia menunjuk dadanya sendiri, singkat. Terlihat jelas rasa nyeri yang tersirat di dalam diri Siska. Namun, ia sengaja tidak mengatakannya. Beberapa lama, hening sejenak. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tapi, ada sesuatu yang tersirat di wajah Bastian. bukan marah, tapi lebih ke arah tidak puas."Ya tapi aku juga manusia, Beb. Aku laki-laki. Dan kadang hal kayak gitu.," ucap Bastian. Ia berhenti sejenak, menahan napas. Masih mencoba menimbang semua ucapan yang akan ke

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 270

    "Gila! Kok bisa sih?" ucap Siska.Ia menggeleng pelan sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka notifikasi. Ada puluhan pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri.Waktu pengirimannya dari semalam. Bahkan ada yang dini hari tadi. Siska mengernyit. "Kenapa gue baru liat sekarang sih?! Astaga!" gumamnya pelan.Tanpa pikir panjang, Siska langsung menekan tombol panggil. Tidak menunggu lama, Putri langsung mengangkatnya."Siska!" teriak Putri. Suaranya langsung terdengar cepat dan jelas. Tidak ada basa-basi. "Akhirnya lo telpon juga!" lanjutnya. Siska sedikit menahan napas. "Iya, Put. Maaf. Ponsel gue ketinggalan.""Ya, gue tau!" balas Putri, terdengar kesal. "Makanya dari semalem gue teleponin terus! Lo nggak baca chat juga ya?"Siska melirik lagi ke layar. "Belum. Baru sekarang gue liat."Putri menghela napas panjang, tapi nadanya masih terdengar tinggi. "Ya ampun Sis, lo tau nggak orang gue udah nunggu lama di hotel! Lo kenapa sih, nggak dateng-

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 269

    "Siapa?" tanya Andini pelan, hampir seperti memastikan ulang.Siska menarik napas, lalu menjawab tanpa menatap Andini. "Alya. Model yang kemarin datang ke sini," ucap Siska. Andini benar-benar terdiam. Wajahnya kosong beberapa detik, lalu alisnya perlahan mengernyit."Alya? Kok bisa sih?" tanyanya, lagi. Ia benar-benar belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Siska.Siska mengangguk kecil, ia sangat yakin apa yang udah dilihatnya semalam. Andini menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap ke arah lain sebentar. "Jujur, gue nggak nyangka sih, Sis."Siska tidak menanggapi. Tangannya kembali bergerak, tapi pelan. Seperti sekadar mengisi jeda.Andini melirik lagi. Kali ini lebih serius."Lo yakin?" tanyanya, memastikan. "Yakin," jawab Siska singkat. "Dia sendiri bahkan udah hampir ngaku. Dan situasinya juga emang udah jelas," lanjut Siska. Nada suaranya terdengar datar. Dan justru itu yang membuat Andini semakin khawatir.Tanpa banyak komentar, A

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 36

    "Pantas!" tegas Andini. "Lo sangat pantas bahagia, Sis!" Ia tersenyum. "Apa gue perlu ke psikolog lagi ya, An?!" ucap Siska dengan suara yang masih parau. "Terserah lo, Sis! Tapi, kalau menurut gue, saat ini sih belum perlu." Andini menarik tangannya kembali. "Lo cuma perlu... kontrol emosi aja!

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 33

    "Aduh!"Dila bergegas menutup mulut dengan kedua tangannya. Ia melihat ke arah Siska. Perasaannya menjadi tidak enak. 'Ngomong apa sih aku!' batin Dila. 'Kalau Pak Satria tau aku ngomongin dia, bisa gawat!'Siska membulatkan matanya. "Masa sih, Mbak? Apa Ayah baru aja dapat proyek baru?!" tanya Si

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 35

    "Terus?" Andini menatap lurus ke arah Siska. 'Gimana nih kalau Siska mau bantu Ibunya? Hubungan gue sama Satria kan baru aja di mulai... ' batin Andini. 'Terlebih, kami juga udah.... ""Ya gue nggak maulah! Tapi... " jawab Siska, ragu. 'Baguslah! Tapi apa sih Sis?' lagi-lagi Andini membatin. "Ta

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 31

    "Lumayan... Om!" jawab Andini, ragu. Ia tidak mau Satria merasa bersalah dan mereka berhenti melakukannya. Karena sebenarnya Andini menginginkannya... Lagi! Satria mengerutkan kening. Jujur iya merasa sangat bersalah atas apa yang mereka lakukan kemarin dan... tadi pagi. "Lumayan apa? Sakit seka

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status