Shankara menghela napas panjang, dahinya menempel di kening Vanka. “Timing-nya luar biasa,” gumamnya sambil memandang ke arah pintu.Vanka tertawa. "Biar aku yang cek.""Abang aja," balas Shankara. "Kamu tetap di sini." Shankara mengatakan itu karena Vanka sedang mengenakan lingerie. Siapa tahu petugas hotel laki-laki yang datang.Turun dari tempat tidur, Shankara melangkah menuju pintu. Ia sempat merapikan celananya sebelum memutar gagang.Begitu pintu terbuka, Raline berdiri di sana sambil menggendong Lengkara yang wajahnya sembab, mata merah dan basah karena menangis. Sesekali isak kecil masih keluar dari bibir anak itu."Bang, eh, Pak, maaf mengganggu. Lengkara mimpi buruk. Dari tadi saya bujuk nggak mau diam," jelas Raline menceritakan.Shankara menyambut sang putri ke gendongannya.Tubuh kecil Lengkara langsung merapat, kedua tangannya melingkar erat di leher ayahnya.“Papa ...,” lirihnya dengan suara serak.“Iya, Papa di sini,” jawab Shankara pelan. Tangannya mengusap punggung a
Terakhir Diperbarui : 2026-01-04 Baca selengkapnya