Share

Part 144

last update Last Updated: 2026-01-05 16:26:25
Vanka memandangi ponsel di tangan yang layarnya sudah gelap. Dadanya masih terasa sesak. Kata-kata Thalia terus berputar-putar di kepalanya.

Ini baru hari kedua menjadi istri Shankara, tapi serangan yang didapat sudah sebegini hebatnya. Entah bagaimana ke depannya, Vanka tidak tahu.

Shankara keluar dengan handuk melingkar di pinggang dan rambut basah. Lengkara menyembul di balik kakinya, dibungkus handuk kecil. Anak itu tampak begitu riang.

"Jadi kamu jawab telepon dari Thalia?" tanya lelaki rebutan banyak wanita itu pada istrinya sembari mengambil baju dari dalam koper.

"Jadi," jawab Vanka.

"Dia bilang apa?"

Vanka melirik putrinya yang juga sedang berpakaian. Vanka tidak ingin Lengkara mendengar percakapan mereka.

"Bang, nanti aja ya,” ucapnya pelan sambil tetap memandang anak mereka.

Shankara mengikuti arah pandang istrinya. Ia mengangguk paham. Setelah selesai berpakaian, Shankara memeriksa ponselnya. Sedangkan Vanka masuk ke kamar mandi. Perutnya yang lapar berbunyi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
Diana Susanti
ya gitulah RT vanka,, apalagi menikah sama duda punya anak
goodnovel comment avatar
My Tata
abis ini raline bikin ulah lg blm lg ntr tiba2 Thalia dtg hadeehhhh
goodnovel comment avatar
Tari Emawan
Terlalu baik hatinya Vanka utk disakiti, oleh anak ga ada ahlak sep Thalia. lanjut kk, tq
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 162

    Hari ini Kaivan, anak pertama Ananta dan Andara berulang tahun. Jadi Shankara membawa istri dan anak-anaknya ke sana. Memang bukan perayaan besar-besaran. Hanya kumpul-kumpul keluarga dan makan malam bersama."Thalia mana, Van?" Shankara menanyakannya lantaran sang putri sulung masih belum terlihat."Kayaknya masih di kamarnya deh, Bang," jawab Vanka."Coba kamu panggil dia."Patuh, Vanka mendatangi kamar Thalia.Vanka mengetuk pintu dan tidak ada jawaban. Ia mendorongnya sedikit, mendapati pintu tidak terkunci.“Thal?” panggilnya.Thalia berdiri di depan cermin, punggungnya menghadap pintu. Rambutnya dibiarkan tergerai, eyeshadow gelap membingkai mata, lipstik merah menyala kontras dengan kulitnya. Ia mengenakan crop tee yang membuat perut dan pusarnya terekspos dengan jelas serta rok mini hitam. Sepasang high heels sudah siap di lantai.Vanka tertegun. “Thalia, kamu mau ke mana?”Anak tirinya itu menoleh, menilai pantulan dirinya sendiri, lalu mengangkat dagu. “Ke rumah Tante Andar

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 161

    Waktu menunjukkan pukul delapan malam lewat sepuluh menit ketika suara motor Shankara terdengar memasuki halaman rumah.Thalia yang sedang main ponsel di sofa langsung menegakkan punggung. Ia mengatur ekspresi dan menata suaranya.Shankara masuk dengan wajah lelah.Thalia melirik sekilas, lalu memalingkan wajah dengan dengkusan kecil.“Papa capek banget hari ini.”Thalia tidak menjawab. Ia malah semakin menenggelamkan fokus pada gadget di tangannya.Shankara lalu duduk di sebelah anak itu. "Main hp terus. Nggak belajar?" tanyanya."Udah," jawab anak itu singkat."Terus kenapa mukamu kayak bete gitu?"Thalia menghela napas panjang. “Nggak apa-apa.”“Kalau nggak apa-apa, kenapa mukanya kayak gitu? Ada masalah apa lagi?”Thalia diam sebentar, lalu mengatakan, “Papa beneran mau tahu?”“Ya.”“Pa, Tante Vanka itu genit.”Shankara mengedip sekali. Lalu tertawa kecil. “Hah?”“Aku serius, Pa!” ujar Thalia cepat, merasa kurang puas dengan reaksi papanya. “Tadi di sekolah dia sok senyum-senyum s

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 160

    "Mulai hari ini Tante Vanka yang akan mengantar kamu ke sekolah." Shankara membuat pengumuman ketika pagi itu mereka sarapan pagi bersama.Thalia spontan mengangkat wajahnya dan memandang sang ayah dengan tatapan penuh protes. Ia menggeser matanya sesaat pada Vanka tanpa perlu repot-repot menyembunyikan ketidaksukaannya. “Kenapa harus dia?” tanya Thalia ketus. “Kan, biasanya Papa.”“Karena Papa mau buka bengkel lebih pagi.”“Ah, Papa nggak asyik. Aku mau nyetir sendiri aja!" Thalia memberengut dan mengusap bekas susu yang menempel di sudut bibirnya dengan kasar.Lengkara hanya diam memerhatikan. Ia tidak berani bicara. Sudah seminggu Thalia tinggal di situ. Awalnya Lengkara senang memiliki kakak. Tetapi tiap kali dirinya mendekat, Thalia langsung melotot. Lengkara merasa takut dan tidak berani lagi mendekat alih-alih mengajaknya bermain."Kamu belum punya SIM, Thalia. Gimana mungkin mau bawa mobil sendiri.""Papa sih sok-sok-an nyuruh aku putus samaYudha." Gadis itu bersungut-sungu

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 159 (Mature Content)

    "Jadi kapan kamu balik kerja lagi, Van?""Kalau bisa secepatnya sih. Aku lagi urus SIP-ku. Tapi ya kamu tahulah semua itu nggak gampang dan butuh waktu.""Iya juga sih. Tapi aku nggak bisa bantu banyak, Van. Cuma bisa bantu lewat doa.""Thank's ya, Win. It means a lot to me.""Sama-sama, Sayangku. Semangat!" ucap Wina di seberang telepon, memberi Vanka motivasi."Semangat!" jawab Vanka sambil tertawa lalu menutup panggilan. Sudah sangat lama Vanka tidak berkomunikasi dan bergaul dengan teman-temannya. Dan ia merindukan itu.Vanka buru-buru meletakkan ponsel ketika mendengar suara mobil. Vanka menyongsong ke depan.Shankara yang pulang."Tumben Abang pulang jam segini? Aku baru aja mau ngantar makan siang ke sana," ujar Vanka setelah suaminya turun dari mobil."Abang kangen kamu makanya pulang sebentar biar bisa ngeliat kamu," jawab lelaki itu dengan kuluman senyumnya yang khas, membuat Vanka tersipu malu."Ya udah, aku siapin makan siang dulu buat Abang.""Nanti aja makan siangnya. Ab

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 158

    Teriakan pilu Vanka membuat Shankara dan Lengkara bangkit dari meja makan. Pun dengan Raline yang sebelumnya sedang menyapu rumah.Vanka terlihat sedang mengibas-ngibas tangannya sambil meringis kesakitan."Van, kamu kenapa?" tanya Shankara yang kini sudah berada di dekatnya.Belum sempat Vanka menjelaskan, Thalia sudah lebih dulu bicara. "Kena air panas, Pa," ujarnya datar.Nada suaranya tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun. Seolah itu hal sepele.Shankara langsung memandang tajam pada sang putri. “Kok bisa?”Thalia mengangkat bahu. “Tumpah aja. Bukan salah aku.”Raline yang berdiri tak jauh dari situ langsung menutup mulut kaget. Lengkara mendekat, wajahnya cemas. “Mama sakit?” tanyanya ikut meringis, seakan ikut merasakan apa yang dialami sang ibu.Vanka berusaha tersenyum meski wajahnya menahan perih. “Cuma sakit sedikit. Tapi nggak apa-apa.”Shankara meraih pergelangan tangan Vanka dengan hati-hati. Kulitnya memerah. Sedikit melepuh di beberapa bagian.Rahang kokoh lelaki

  • Tak Sengaja Mencintaimu   Part 157

    'Pagi-pagi udah keramas aja,' ujar Thalia di dalam hati melihat rambut Vanka yang basah. Ia tahu apa artinya.Perempuan itu keluar dari kamar mandi dengan handuk melingkar di leher, wajah segar, dan aroma sabun yang samar tercium. 'Murahan. Pasti dia yang duluan menggoda Papa biar ditidurin.' Thalia masih mengoceh di dalam hati merutuki ibu tirinya.Thalia melipat tangan di dada, menatap Vanka tanpa berusaha menyembunyikan ekspresi tidak sukanya.Vanka menyadari tatapan itu. Ia tidak kaget. Ia hanya memilih mengabaikan, berjalan ke dapur untuk menyiapkan sarapan.Di dapur, Vanka bertemu dengan Raline."Udah, Lin, makasih," ucapnya pada perempuan itu yang sedang mengaduk nasi goreng. Tadi Vanka meminta bantuannya sebentar karena harus menjawab telepon."Iya, Bu." Raline menggeser posisinya. Ia lanjut mencuci piring."Oh ya, Lin, kamu udah kenal sama Thalia?" tanya Vanka. "Udah, Bu. Udah kenalan tadi. Dia anak bapak dari cinta pertamanya, kan, Bu?" Sendok di tangan Vanka berhenti ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status