“Opa, Uncle?” sapa Dhava. Mata hitamnya memperhatikan wajah Danis yang basah. Ia yakin itu bukanlah karena keringat, melainkan jejak air mata. Namun, ia tidak ingin bertanya di sini, biarlah nanti di dalam. Ia mengulurkan tangan, hendak menyalami kedua pria itu. Denver dan Danis kompak terdiam. Denver mengulurkan tangan, tetapi bukannya menerima, pria itu memanggil sekuriti untuk membawa Danis masuk. Membiarkan tangan Dhava menggantung begitu saja di udara. Bahkan Danis pun seolah enggan menatap ke arah Dhava. Kakek yang biasanya hangat, kini sedingin tumpukan balok es. Dari teras, Diana merasakan hal yang sama. Bahkan Denver langsung masuk ke rumah tanpa menyapa. Sedangkan Danis melirik ke arah perutnya, yang sontak ia peluk dengan kedua tangan. Bulu kuduknya merinding. Ia menelan ludah, sensasi segar dari stroberi pun lenyap sudah. Hanya saja sebelum benar-benar masuk, Opa Danis berkata, “Wi, minta Darius dan Maharani datang ke sini!” Dewi mengangguk ragu, sebab melihat ekspresi
Last Updated : 2026-02-01 Read more