Diana cepat-cepat menuju balkon dengan tubuh yang terasa berat. Meskipun dari kejauhan sosok Dhava hanya terlihat setitik kecil, Diana tahu pria itu sedang menatap lurus ke arahnya. Dengan napas tersendat-sendat, ia mengibas-ngibaskan tangannya, memberi isyarat jengkel sekaligus mengusir agar pria itu pergi dari sana sebelum Denver menyadarinya.Bukannya pergi, Dhava justru menggeleng, dan tak lama kemudian satu pesan masuk ke telepon genggam Diana.[Tunggu aku di kamar, Baby.]Mata Diana melebar, ia lalu membalas, [Mas, aku bakal marah kalau kamu beneran ke kamarku! Pulang, Mas!]Alih-alih menciut, Dhava malah terlihat berlari ke sisi lain rumah yang gelap dan tertutup rimbunnya pohon palem. Diana menyipitkan mata, berdiri kaku di balkon sambil menahan napas. Ia cemas sekaligus bingung apa yang akan dilakukan pria nekat itu.Dhava, yang sejak kecil sering bermain di rumah ini, tahu betul setiap sudut dan celah yang bisa dimasuki tanpa ketahuan. Ia tidak menuju pintu utama, melainkan m
Last Updated : 2026-02-07 Read more