Pagi-pagi sekali, mobil mewah milik keluarga Riki sudah terparkir melintang di depan kediaman Dhava. Riki dan istrinya turun dengan ekspresi garang dan langkah lebar. Berkat kunci Cadangan yang dipegang Renita, mereka leluasa masuk.Berbeda dari Renita yang tetap duduk manis di balik kaca mobil yang gelap. Ia melipat tangan di dada, seperti menonton drama yang sebentar lagi dimulai. Senyum tipis pun tersungging di bibirnya.“Maaf, Pak, Bu. Tapi Pak Dhava tidak ada di rumah,” ungkap salah satu ART, terdengar gemetar saat menghadapi tatapan tajam Riki.“Saya ini mertuanya! Saya mau nengok cucu-cucu saya, apa perlu izin dari pelayan?” gertak Riki, tanpa basa-basi merangsek maju.ART itu mundur selangkah, wajahnya langsung pucat pasi. “I—iya, Pak, tapi pesan Pak Dhava … mohon tunggu di sini sebentar, saya panggilkan Pak Darius.”Mendengar nama Darius, kali ini emosi Mami Renita justru tersulut. “Untuk apa izin-izin segala? Ini juga rumah anakku, Renita! Minggir!” Wanita paruh baya itu men
Last Updated : 2026-02-11 Read more