*** Aran sedang fokus bekerja ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Nama Oma tertera di layar. “Halo, Oma,” jawabnya. “Aran, Oma minta tolong. Tolong bawa Lala pulang, ya. Dari tadi malam dia nggak pulang. Oma takut terjadi apa-apa, soalnya sebelum pergi dari rumah dia sempat ribut dengan mamanya,” ucap Oma dengan suara bergetar menahan cemas. Aran melirik jam di pergelangan tangannya. Pukul sepuluh malam. Dadanya terasa mengeras. Seketika, ingatannya melayang pada ucapan Lala pagi tadi. “Adinda turun,” katanya ringan sambil membuka pintu. “Tapi jangan lupa jemput. Atau Adinda nggak akan pernah pulang ke rumah,” ancamnya—manis, nyaris seperti bercanda. Aran mengusap wajahnya dengan perasaan kacau. “Aran, kamu masih di sana?” tanya Oma memastikan. “Mungkin Oma bisa langsung menghubunginya. Saya yakin Lala akan segera kembali,” jawab Aran. Padahal, jauh di dalam hatinya, ia sama sekali tak ingin terus berhadapan dengan Lala. “Aran, Oma sudah menghubunginya berkali-ka
Last Updated : 2025-12-22 Read more