Ia membungkuk sedikit, menahan mual yang naik mendadak. “Aku mual banget,” keluhnya pelan. Hani refleks mendekat. “Mungkin masuk angin. Kamu kan nggak teratur makan,” katanya mencoba menenangkan. “Hani… tolong ambilin minyak angin aku, dong, sekalian kamu coba periksa aku,” pinta Lala lemah. “Iya, iya,” jawab Hani cepat. Ia segera berdiri dan mengambil minyak angin dari tas Lala. Begitu Hani kembali, Lala meringkuk sambil menekan perutnya. “Perut aku sakit banget, Han,” ucapnya lirih, nyaris berbisik. Hani menghela napas pendek. Ia mengoleskan minyak angin ke telapak tangannya, lalu menggosokkannya perlahan ke perut Lala. “Aku cuma perawat,” katanya dengan senyum kecut, berusaha mencairkan suasana. “Yang dokter kan kamu, La. Takutnya aku salah periksa… nanti kamu masuk angin, malah aku bilang hamil.” Lala menoleh pelan, meski wajahnya masih pucat. “Han…” suaranya pelan, hampir tak terdengar. “Jangan bercanda dulu deh. Kepalaku muter.” Senyum Hani langsung memudar
Last Updated : 2025-12-30 Read more