“Lala, ini Ibu khawatir sama kamu,” kata Sarah. Tak lama kemudian ponsel berpindah tangan. “Lala, kamu di mana? Kok belum pulang? Katanya cuma nganter pasien rujukan,” suara Bu Nining terdengar jelas, penuh kecemasan. Dada Lala terasa semakin sesak. Rasa bersalah menumpuk karena ia harus berbohong pada perempuan sebaik Bu Nining. “Kenapa diam? Kamu nggak apa-apa, kan?” tanya Bu Nining semakin khawatir. “Bu… Lala pulang besok pagi ya. Malam ini Lala masih ada pekerjaan,” jawabnya pelan. Kalimat itu terasa pahit di lidahnya sendiri. “Oh begitu. Ya sudah, besok hati-hati di jalan,” pesan Bu Nining hangat. “Iya, Bu,” jawab Lala lirih. Sesaat kemudian, ponsel kembali ke tangan Sarah. “La, kamu masih di Jakarta, kan?” tanyanya. “Iya. Ada yang mau kamu titip?” balas Lala berusaha terdengar biasa. “Bawain buah-buahan segar dari mal ya,” kata Sarah sambil terkekeh kecil. “Oh, oke,” jawab Lala singkat. Lalu suara Sarah berubah, sedikit ragu. “La, Mas Aran juga di
Last Updated : 2026-01-13 Read more