“Kak, pulang yuk,” ucap Lala sambil tersenyum tipis. “Ngapain sih kita di sini? Kayak anak ABG yang lagi pacaran, mojok di rumah kosong.” Aran terkekeh pelan. Tawa yang jarang sekali keluar darinya. “Ya udah,” katanya santai. “Kita pacaran aja, ya.” Lala menoleh cepat. “Kamu… nembak aku?” tanyanya bingung, setengah tak percaya. “Iya,” jawab Aran tanpa ragu. Wajahnya tampak serius, tapi matanya seperti anak kecil yang berharap besar. “Mau, ya?” Belum sempat Lala menjawab, Aran sudah merobek sedikit ujung kemejanya. Kain itu ia lilitkan pelan di jari manis Lala, membentuk simpul sederhana—kasar, tapi penuh makna. “Ini cincinnya,” katanya ringan. “Sekarang kita udah jadian.” Lala terdiam sesaat, lalu pecah tertawa. “Ahahaha… kamu ini aneh banget,” katanya sambil menatap ikatan kain di jarinya. Aran ikut tersenyum, senyum lebar yang jarang sekali Lala lihat. Aran yang ia kenal adalah lelaki pendiam, kaku, dingin, penuh beban. Namun Aran yang duduk di hadapannya sek
Last Updated : 2026-01-22 Read more