Pagi datang tanpa aba-aba, menyusup lewat celah gorden yang tak tertutup rapat. Cahaya matahari jatuh miring ke lantai, memantul pucat, seolah ikut ragu untuk menyapa. “Mas, bangun yuk. Sarah sudah masak,” kata Sarah sambil mengelus wajah Aran. Wajah Aran memang tampan, membuatnya sejak dulu sudah jatuh hati padanya. Tapi saat Sarah menyentuh, tubuh Aran terasa hangat—terlalu hangat. “Mas, kamu demam? Muka kamu pucat,” kata Sarah, khawatir. “Kayaknya kecapekan,” jawab Aran pelan. “Makanya kita pindah ke kota saja, Mas. Biar kamu nggak bolak-balik capek begini,” lanjut Sarah. “Iya,” jawab Aran singkat. Sarah tersenyum, membayangkan hidup nyaman sebagai orang kaya. “Aku panggil Lala dulu, biar dia periksa kamu,” katanya lagi, lalu pergi. Aran perlahan keluar dari selimut, tak menyangka Sarah akan memanggil Lala. “Lala,” panggil Sarah sambil menghampiri Lala yang tengah duduk di meja makan. “Ya,” jawab Lala menoleh. “Kamu bisa periksa Mas Aran sebelum berangkat?”
Last Updated : 2026-01-17 Read more