Mobil yang ditumpangi Aruna melaju pelan menembus hujan yang kian deras. Lampu-lampu kota memantul di kaca jendela, buram oleh air yang terus mengalir. Aruna duduk di kursi belakang, tubuhnya bersandar lemah, namun pikirannya justru semakin kacau. Kota ini, kota yang menyimpan sejuta luka untuknya. Aruna mengepalkan tangannya. Sudah cukup, batinnya. Dia tidak boleh kembali goyah. Namun bayangan wajah Alaric muncul tanpa permisi—dingin, arogan, dengan tatapan seolah Aruna adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya. "Berhenti menipuku!" Suara itu terngiang jelas di telinganya. "Aku muak denganmu." "Kau menjijikkan." Dada Aruna terasa ditusuk. Napasnya tercekat. "Aku bukan penipu, dan aku buka jalang," bisiknya lirih, seolah Alaric duduk tepat di hadapannya. "Aku hanya terlalu takut kehilanganmu." Tangannya tanpa sadar menyentuh perutnya, jantungnya berdegup semakin cepat. Bagaimana jika dia mengatakannya sekarang? Bagaimana jika dia jujur sebelum semuanya terlambat? Namun, b
Last Updated : 2025-12-15 Read more