Di dalam koridor rumah sakit yang dingin, Nayla Wilson seolah mendapatkan suntikan tenaga baru yang menyakitkan. Kata-kata Viktor bukan lagi sekadar ejekan baginya, melainkan sebuah instruksi mutlak. Jika harga untuk kembali ke pelukan ayahnya adalah dengan menjadi "gadis patuh", maka ia akan membayar harga itu, tidak peduli seberapa hancur tubuhnya. "Lagi," bisik Nayla, suaranya parau namun penuh tekad. "Nona, Anda baru saja hampir pingsan," perawat senior mencoba memperingatkan. "Aku bilang lagi!" Nayla mencengkeram lengan Artem dengan sangat kuat, hingga kukunya memutih. "Bantu aku berdiri, Artem. Aku harus bisa berjalan sampai ke ujung koridor itu tanpa jatuh." Artem menatap mata Nayla yang kini berkilat obsesif. Ia tahu ini bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal keputusasaan seorang anak yang haus akan validasi. Tanpa suara, Artem mempererat pegangannya pada pinggang Nayla, memberikan tumpuan paling kokoh yang ia punya. Setiap langkah Nayla adalah jeritan rasa saki
Read more