Suasana di ruang makan Kremlin seketika berubah menjadi pengap. Lachlan meletakkan laporan intelijennya perlahan ke atas meja, suara gesekan kertasnya terdengar seperti asahan pisau di keheningan yang mencekam itu. Matanya yang kelabu, sedingin es Siberia, kini terkunci rapat pada wajah Emilia yang mulai memucat. "Emilia," suara Lachlan rendah, berat, dan penuh penekanan. "Burung jahanam ini baru saja menyebutkan tentang pengkhianatan darah di dalam keluargamu. Tentang ibumu, Eavi, dan saudara kembarnya." Emilia merasakan lututnya lemas. Ia tertunduk dalam, tangannya meremas serbet di bawah meja hingga buku-buku jarinya memutih. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, panas dan menyakitkan. "Apa yang kau sembunyikan dariku?" tanya Lachlan lagi, kini ia mencondongkan tubuhnya ke meja, memperpendek jarak. "Apa saja yang ibumu bisikkan padamu di balik pintu kamar yang tertutup? Tentang harta Vladimir? Atau tentang... cara dia menyingkirkan orang-orang di sekitarnya?" "Ak
Ler mais