Kakinya luruh ke bawah. Pantatnya terduduk menempel lemas pada lantai marmer yang dingin. Batu putih itu menyerap sisa hangat tubuhnya dengan kejam, seolah Kremlin sendiri ingin menelan setiap kelemahan yang terlihat di dalam dindingnya. Tatapan Emilia kosong. Tidak fokus pada apa pun di depannya. Tidak pada lampu kristal yang menggantung redup di langit-langit kamar. Tidak pada tirai tebal yang menutup jendela malam Moskow. Tidak juga pada meja kecil tempat gelas racun itu tadi diletakkan. Pikirannya hanya terjebak pada satu gambaran yang terus berputar tanpa henti. Kesia. Saudari angkatnya. Kesia Vladimir. Kesia Dubicki. Perempuan itu menelan racun seperti meneguk air mineral biasa. Tanpa ragu. Tanpa gentar. Tanpa bahkan mengernyitkan alis. Seolah racun yang bisa membunuh seekor kuda dalam hitungan detik itu hanyalah minuman ringan yang disajikan saat makan malam. Andai Emilia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah mempercay
Last Updated : 2026-03-06 Read more