Home / Mafia / Velvet Bloodline / Part 79 : Kakak, Dimana Ayah?

Share

Part 79 : Kakak, Dimana Ayah?

Author: Cloudberry
last update publish date: 2026-04-11 08:59:09

​Viktor terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pisau. "Hanya saja, dulu kau jatuh karena memang belum tahu caranya jalan. Sekarang? Kau jatuh karena kebodohanmu sendiri bermain judi dan membuat Ayah murka. Benar-benar adik kecil yang tidak pernah belajar."

​Nayla gemetar hebat mendengar suara kakak angkatnya. Cengkeramannya pada baju Artem semakin kuat. Kenangan tentang "kakak" yang dulu melindunginya kini terasa seperti racun, karena pria yang sama pulalah yang menyera
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 84 : Merayakan Kematian

    Malam di Honolulu seharusnya menjadi tempat persembunyian yang sempurna bagi Emilia. Suara deburan ombak Pasifik yang menghantam bibir pantai di balik dinding vila biasanya terdengar seperti nina bobo. Namun, malam ini, suara itu justru terasa seperti bisikan pengkhianatan yang menyeret kembali memori yang susah payah ia kubur di bawah bata merah Kremlin. ​Emilia duduk di sofa velvet ruang tengah, menatap layar televisi yang masih menampilkan sisa-sisa reruntuhan di Setagaya. Di bahunya, Bara, si kakatua hitam, sedang sibuk merapikan bulunya. ​Baru saja ia hendak merayakan "kematian" Nona Berry, suara gerendel pintu digital vilanya berbunyi. ​Pip-pip-pip... Klik. ​Jantung Emilia seolah berhenti berdetak. Kode akses vila ini sangat rahasia. Ia menoleh ke arah pintu dengan napas tertahan, hingga sosok yang melangkah masuk dari kegelapan teras membuat gelas kristal di tangannya terlepas. Prang! Cairan emas sampanye itu tumpah, meresap ke karpet, persis seperti tetesan teh herbal

  • Velvet Bloodline   Part 83 : Perayaan

    ​[BREAKING NEWS: KEBAKARAN HEBAT DI KEDIAMAN TRADISIONAL JEPANG, SETAGAYA TOKYO. DUA KORBAN JIWA DITEMUKAN HANGUS.] ​Viktor membeku. Ia teringat laporan terakhir dari intelijen luar negeri bahwa Bryer sedang berada di Jepang mengejar Nona Berry. ​"Ayah, tunggu," Viktor menunjuk ke layar. "Itu rumah Nona Berry. Jurnalis gila itu baru saja lenyap terbakar di Tokyo." ​Leonid terdiam, menatap kobaran api di layar. Ketegangannya sedikit mengendur, namun kewaspadaannya tetap tinggi. "Jika dia mati, siapa yang akan mengelola kebocoran data ini? Kita harus memastikannya. Viktor, batalkan ke St. Petersburg. Kita pergi ke Kremlin. Aku perlu bertemu Dashiell. Dia harus mengonfirmasi jika itu benar-benar kematian si jurnalis atau sekadar pengalihan isu." Di salah satu bunker mewah di bawah Kremlin, suasana tampak kontras. Stewart duduk santai di sofa kulit, membelai Gliss, rubah merah cantik pemberian Kesia yang melingkar di pangkuannya. Di sekelilingnya, Thane, Callum, dan Dashiell sedan

  • Velvet Bloodline   Part 82 : Raja Santai

    Lautan Pasifik di sekitar Tanjung Fugui, Taiwan, tampak berkilau seperti hamparan berlian hitam di bawah cahaya bulan sabit. Di atas dek yacht mewah sepanjang 20 meter, dentum musik deep house merobek kesunyian malam. Bryer bersandar di kursi lounge dengan gelas kristal berisi wiski mahal di tangannya. Di sekelilingnya, beberapa model lokal Taiwan tertawa centil, mencoba menarik perhatian putra orang nomor satu di Washington itu. ​Pipi Bryer masih tertutup plester tipis bekas sayatan tantō milik Zayn yang masih terasa berdenyut. Namun, rasa sakit itu tertutup oleh euforia yang meluap-luap. Di layar televisi besar di kabin luar, berita utama internasional sedang menyiarkan kobaran api raksasa di Setagaya, Tokyo. ​"Mampus kau, jalang," bisik Bryer sembari menenggak wiskinya. ​Kabar itu bagaikan embun di padang pasir bagi harga dirinya yang sempat hancur. Laporan intelijen awal menyatakan tidak ada yang selamat dari kebakaran hebat di rumah tradisional tua tersebut. Dua jenazah

  • Velvet Bloodline   Part 81 : Bryer Gila

    Kemarahan telah melampaui logika sehat Bryer. Di dalam SUV yang melaju kencang meninggalkan Setagaya, napasnya memburu, dan rasa perih di pipinya akibat goresan pedang Zayn seolah membakar seluruh harga dirinya. Baginya, Nona Berry bukan lagi sekadar jurnalis yang harus dibungkam wanita itu adalah eksistensi yang telah menginjak-injak martabat Gedung Putih. ​Ia meraih ponsel satelitnya, menekan frekuensi paling rahasia yang hanya dimiliki oleh garis keturunan presiden. ​"Dashiell," suara Bryer rendah, bergetar oleh amarah yang dingin. "Aktifkan Protokol Deep Strike. Aku baru saja mengirimkan kode akses otorisasi tingkat tinggi ke servermu." ​Di Moskow, Dashiell tertegun di depan deretan monitornya. Pesan enkripsi masuk, menampilkan kode peluncuran yang berasal dari pangkalan militer Amerika Serikat di Taiwan. Matanya membelalak melihat jenis hulu ledak yang diminta. ​"Bryer, kau sudah gila?" suara Dashiell pecah dari balik telepon. "Itu Tokyo! Itu wilayah kedaulatan Jepang, se

  • Velvet Bloodline   Part 80 : Mobil Ayah

    Di dalam koridor rumah sakit yang dingin, Nayla Wilson seolah mendapatkan suntikan tenaga baru yang menyakitkan. Kata-kata Viktor bukan lagi sekadar ejekan baginya, melainkan sebuah instruksi mutlak. Jika harga untuk kembali ke pelukan ayahnya adalah dengan menjadi "gadis patuh", maka ia akan membayar harga itu, tidak peduli seberapa hancur tubuhnya. ​"Lagi," bisik Nayla, suaranya parau namun penuh tekad. ​"Nona, Anda baru saja hampir pingsan," perawat senior mencoba memperingatkan. ​"Aku bilang lagi!" Nayla mencengkeram lengan Artem dengan sangat kuat, hingga kukunya memutih. "Bantu aku berdiri, Artem. Aku harus bisa berjalan sampai ke ujung koridor itu tanpa jatuh." ​Artem menatap mata Nayla yang kini berkilat obsesif. Ia tahu ini bukan lagi soal kesehatan, melainkan soal keputusasaan seorang anak yang haus akan validasi. Tanpa suara, Artem mempererat pegangannya pada pinggang Nayla, memberikan tumpuan paling kokoh yang ia punya. Setiap langkah Nayla adalah jeritan rasa saki

  • Velvet Bloodline   Part 79 : Kakak, Dimana Ayah?

    ​Viktor terkekeh pelan, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan pisau. "Hanya saja, dulu kau jatuh karena memang belum tahu caranya jalan. Sekarang? Kau jatuh karena kebodohanmu sendiri bermain judi dan membuat Ayah murka. Benar-benar adik kecil yang tidak pernah belajar." ​Nayla gemetar hebat mendengar suara kakak angkatnya. Cengkeramannya pada baju Artem semakin kuat. Kenangan tentang "kakak" yang dulu melindunginya kini terasa seperti racun, karena pria yang sama pulalah yang menyerahkannya pada takdir yang pahit ini. Tetapi, ia tidak bisa menyalahkan kakaknya Viktor. Semua ini murni kesalahannya. Andai ia lebib mendengarkan Viktor ketimbang ibunya dan kakaknya Nathan. Mungkin nasibnya tidak akan seperti ini. Hanya karena Viktor adalah anak yang diadopsi jauh sebelum kedua orang tuanya menikah. Nayla ikut membenci dan mengabaikan setiap kalimat yang diucapkan pria dihadapannya. ​Artem tidak segera melepaskan dekapannya. Ia justru mengeratkan pelukannya pada Nayla, me

  • Velvet Bloodline   Part 74 : Terluka

    Bau antiseptik yang tajam dan bunyi ritmis dari monitor detak jantung menjadi latar belakang di ruang VIP Rumah Sakit Medistra, Jakarta. Cahaya lampu neon yang temaram memberikan kesan sunyi yang kontras dengan hiruk-pikuk pertempuran di lantai 56 beberapa jam sebelumnya. ​Theo terbaring kaku di

  • Velvet Bloodline   Part 73 : Bedebah

    ​Thom tertawa, sebuah tawa kering yang membuat suasana ruangan menjadi semakin mencekam. "Alasan klasik. Semua orang yang mengkhianati Percy selalu punya keluarga yang perlu dilindungi. Tapi kau lupa satu hal, Miller. Akulah yang memberi makan keluargamu selama dua puluh tahun. Kau memilih perlindu

  • Velvet Bloodline   Part 72 : Seahouses

    Diskusi itu pun berubah menjadi sesi interogasi privat. Selama hampir satu jam, mereka terjebak dalam perdebatan strategi. Bryer menggali informasi tentang koneksi lama Ivan Li yang mungkin masih aktif, sementara Bara dengan bangganya membeberkan setiap "bisikan" yang ia dengar dari kakatua-kakatua

  • Velvet Bloodline   Part 71 : Aku Mendengarnya

    Bryer meremas tangannya kuat-kuat. Kedatangannya ke Hawaii yang niatnya untuk menenangkan diri, kini berubah menjadi misi perburuan kembali. Ia melirik Emilia, merasa bersalah karena liburan mereka akan terganggu lagi. ​"Naiklah ke helikopter dulu, Bryer," ujar Emilia tenang, meskipun hatinya iku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status