Kamar itu hanya diterangi oleh lampu tidur temaram yang membiaskan bayangan panjang di dinding kayu. Detak jam dinding seolah berpacu dengan degup jantung Alena yang kian kencang. Ia menatap Aziz, mencari kepastian di balik netra gelap suaminya. Ada ketakutan, namun ada pula setitik rindu yang sudah lama ia kunci rapat-rapat. Alena akhirnya memberikan anggukan kecil, hampir tak terlihat jika Aziz tidak memperhatikannya dengan saksama. Ia memilih untuk meletakkan seluruh pertahanannya, mempercayakan tubuh dan jiwanya pada janji pria di hadapannya."Jangan bermain kasar ya, Mas... aku takut," bisik Alena dengan suara yang bergetar hebat. Jari-jemarinya meremas pinggiran selimut, mencoba mencari pegangan. Aziz tidak menjawab dengan kata-kata yang sombong. Ia justru mendekat, merengkuh wajah Alena dengan kedua tangannya yang hangat, lalu mendaratkan kecupan lama di kening istrinya."Aku nggak akan menyakitimu, Len. Sama sekali tidak. Percayakan padaku,"
더 보기