Aziz terbaring dengan napas yang berat. Suhu tubuhnya mulai turun, namun kepalanya masih berdenyut kencang. Di tangannya, sebuah ponsel tergenggam erat, menampilkan sebaris pesan singkat dari Alena yang sudah ia baca berulang kali."Formal sekali bahasa kamu, Len," gumam Aziz parau. Ia menatap layar dengan nanar. "Nggak ada kata sayang, nggak ada doa... seolah-olah aku ini cuma orang asing." Aziz mencoba menekan tombol panggil. Ia menunggu dengan jantung berdebar, namun nada sambung itu terus berbunyi hingga terputus otomatis. Ia mencoba lagi, dan lagi, namun hasilnya tetap sama."Angkat, Len... tolong angkat," rintihnya sambil melempar ponsel itu ke ujung tempat tidur. Ia menatap langit-langit kamar dengan getir. "Apa aku sudah nggak ada artinya lagi buat kamu?” Sementara itu, di sudut kota Medan yang mulai sibuk, Alena sedang berdiri di depan meja kayu panjang yang penuh dengan tumpukan nota. Aroma tepung manis dan wangi mentega dari panggangan me
더 보기