Udara di kamar yang baru saja direnovasi itu terasa begitu pekat, seolah-olah memori tentang Aksara dan kehadiran Arkananta sedang berebut ruang di sana. Aziz tidak memaksa Alena untuk langsung berdiri. Ia tetap membiarkan dirinya terduduk di lantai kayu yang dingin, mendekap erat tubuh istri dan anaknya dalam satu pelukan protektif. Aziz membenamkan wajahnya di rambut Alena, menghirup aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan itu."Maafkan aku, Len," bisik Aziz parau, nyaris tak terdengar. "Aku sungguh minta maaf. Aku pikir dengan mengganti semuanya, aku bisa memberimu awal yang baru. Aku tidak menyadari kalau bagi kamu, setiap jengkal lantai ini masih berdarah."Alena menggeleng pelan dalam dekapan suaminya, jemarinya masih mencengkeram kemeja Aziz. "Bukan salahmu, Mas. Hanya saja... aku belum siap melihat Aca benar-benar tidak ada di sini.""Aku bodoh karena menganggap renovasi bisa menghapus luka," sesal Aziz lagi, suaranya bergetar. "Aku seharusnya bert
더 보기