Darah di nadi Kael bukan lagi cairan, melainkan tinta mendidih yang mendesak keluar dari pori-porinya, protes terakhir yang ingin ia tuliskan bagi sang pencipta. Di bawah tekanan Beton Narasi, setiap inci ototnya berdenyut dalam ritme yang menyiksa.Namun, sepasang mata seungu galaksi mati itu tak berkedip sedikit pun saat menyaksikan tubuh Lyra perlahan terurai, menjadi debu hitam yang luruh di bawah sana.Di atas tangga buku-buku yang terbakar, sang Arsitek Pertama berdiri tegak. Ia mengamati pemandangan itu dengan dingin, layaknya seorang pengrajin yang sedang membuang produk gagal ke dalam tungku perapian. Tak ada belas kasih, hanya tatapan datar seorang pencipta yang sedang memusnahkan karyanya sendiri."Kau berteriak tanpa suara, Kael. Itulah batasan dari seorang karakter," ucap Arsitek Pertama sembari merapikan jubah putihnya yang tak bernoda."Di dunia ini, suaramu hanyalah getaran udara yang sudah aku atur frekuensinya. Kau
Last Updated : 2026-02-26 Read more