Lyra mengerjapkan matanya perlahan. Sinar matahari pagi yang menerobos celah pepohonan terasa hangat, bukan lagi seperti energi murni yang menusuk, melainkan seperti usapan lembut alam pada kulitnya.Ia menarik napas panjang, dan untuk pertama kalinya, paru-parunya tidak hanya menghirup mana atau esensi langit, melainkan aroma pinus yang segar dan bau tanah yang basah."Kael ...," bisik Lyra. Suaranya terdengar berbeda, lebih jernih, lebih dalam, dan membawa getaran emosi yang sangat manusiawi.Kael, yang sejak tadi memperhatikannya, tersenyum. Senyum itu tidak lagi mengandung misteri atau kedinginan seorang aksis dunia. Itu adalah senyum seorang pria yang merasa sangat bersyukur bisa melihat fajar sekali lagi. Ia mengulurkan tangan, menyisir rambut Lyra yang kini berwarna biru gelap seperti samudera di malam hari."Aku di sini, Lyra," sahut Kael.Lyra bangkit duduk, merasakan otot-ototnya sedikit kaku. Ia menatap tangannya. Kulitnya terasa hangat, dan saat ia menyentuh wajah Kael, ia
Last Updated : 2026-01-15 Read more